RSS

Daily Archives: December 29, 2011

Percakapan Terakhir Bung Karno dan Bung Hatta

 

Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.

Tiga hari kemudian, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah. “Hatta.., kau di sini..?”. Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur. “Ya, bagaimana keadaanmu, No?” Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.

Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu? Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno. Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.

Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus. Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.

Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

sumber :http://terselubung.blogspot.com

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Pengetahuan Umum

 

Bundaran Semanggi

Di depan maket Stadion Senayan Bung Karno menunjuk-nunjukkan tongkatnya ke maket rencana Stadion “Ini…ini akan jadi Stadion terbesar di dunia, ini adalah awal bangsa kita menjadi bintang pedoman bangsa-bangsa di dunia, semua olahraga dari negara-negara di dunia ini, berlomba disini. Kita tunjukkan pada dunia, Indonesia bangsa yang besar, yang mampu maju ke muka memimpin pembebasan bangsa-bangsa di dunia menuju dunia barunya“.

Lalu Sukarno memanggil pematung Sunarso dan berkata : “Coba dari arah lurus ini, kamu buat Patung Selamat Datang, disinilah patung yang akan jadi gerbang bangsa kita, awal dari mula sejarah berpikir kita. Djakarta akan jadi kota dunia, ini impianku, dari Stadion Senayan ini akan dilingkari pusat-pusat kebudayaan, kita akan melahirkan bukan saja atlet-atlet handal tapi pelukis-pelukis jempolan, penari-penari kelas dunia, dan penyanyi-penyanyi yang lagunya bisa membangkitkan suara surga dari tanah Nusantara. Cobalah Sunarso aku ingin lihat karyamu, patung-patungmu akan memberi jiwa bagi bangkitnya bangsa kita ke muka dunia Internasional. Monumenmu yang kau bangun adalah kehormatan“.

Kemudian Bung Karno diperlihatkan maket jalan Semanggi : “Semanggi ini perlambang bunga yang imbang, dari susunan daunnya dan batangnya. Ini seperti bangsa kita yang menyukai keindahan, dan taukah kamu…eh Bandrio, eh Jenderal Suprayogi, eh Sutami….keindahan itu adalah keseimbangan” kata Bung Karno dengan mata penuh kemenangan.

Utusan Jepang untuk persiapan Asian Games 1962 berdecak kagum pada bangsa Indonesia. “Ini bangsa gila, bisa menyiapkan seluruh soal dalam hitungan bulan, dengan membangun Stadion raksasa sekaligus pemindahan penduduk tanpa ribut-ribut. Kepemimpinannya luar biasa

Bung Karno dengan akal cerdasnya tidak membangun Stadion dengan hutang atau pake dana APBN dimanipulasi proyeknya seperti yang terjadi sekarang. Tapi ia memboyong semua menterinya ke Tokyo. Sukarno tinggal di Tokyo 18 hari. Disana Sukarno melobi seluruh pejabat-pejabat Jepang. Bahkan Mochtar Lubis dalam sebuah sindirannya berkata : “Gila, Ibukota RI pindah ke Tokyo”. Ini benar juga soalnya Robert Kennedy yang sedang melobi Sukarno harus ke Tokyo bukan ke Jakarta, semua pekerjaan dilaporkan para menteri ke Tokyo.

Dari Tokyo ini Sukarno mendapat pampasan perang Jepang. Beda dengan lobi gaya Sjahrir yang membuat Indonesia harus membayar kepada Belanda, lobi kepada Jepang justru membuat Jepang harus membayar pampasan perang kepada Indonesia, itulah hebatnya Sukarno. Dengan pampasan perang ditambah dana bantuan dari Uni Soviet itu Sukarno membangun Stadion paling hebat sedunia, Sukarno membangun Jembatan Ampera, Sukarno membangun banyak hotel agar Djakarta dipersiapkan jadi kota Internasional. Sukarno membangun jalan-jalan raya seperti Semanggi yang sampai sekarang masih dibanggakan bangsa Indonesia. Itulah warisan Sukarno pada kita.

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Pengetahuan Umum

 

Bung Karno dan Soeharto

Tahun 1964 Bung Karno melucu di depan Mayor Jenderal Suharto setelah beliau mengumandangkan operasi perang pengganyangan terhadap Malaysia. Mayjen Suharto diperintahkan Sukarno untuk merancang operasi militer darat untuk mendekeng operasi udara yang dikomandoi oleh Marsekal Omar Dhani. Saat itu Bung Karno sudah berpikir menjadikan Angkatan Udara sebagai Militer Udara terkuat se Asia. Sukarno berkata pada Suharto saat beberapa Jenderal mempertanyakan kenapa bukan Jenderal Angkatan Darat yang memegang pimpinan operasi Pengganyangan Malaysia. “Har, kamu tau bahwa jaman Hitler yang pegang peranan tank, mangkanya Hitler dulu sebelum perang membangun autobahn, jalan-jalan besar diaspal mulus untuk memperlancar gerak tank, setelah penyerangan Amerika Serikat ke Jepang baru dimulai abad militer Angkatan Udara, kamu masih inget saat Van Langen membom Yogya, itu yang maju pasukan udara-nya, mereka menerjuni pasukan lewat Maguwo dan membunuhi anak buah kasmiran, itu Angkatan Udara-nya Belanda, Har. Jadi aku ingin Angkatan Udara Indonesia kelak menjadi Angkatan Udara terkuat di Asia, dengan begitu kita menjadi bangsa kuat“.

Terbukti 40 tahun kemudian ramalan Sukarno tepat saat Amerika Serikat menyerang Irak dibawah Bush pada tahun 1990, seluruh operasi militer dikomandokan oleh Angkatan Udara, sebelum infanteri menguasai kota-kota penting di Irak. Abad pertempuran masa depan yang diramalkan Sukarno tentang Angkatan Udara menjadi terbukti.

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Pengetahuan Umum

 

Bung Karno dan Castro

Setelah menghadiri Sidang Pleno di PBB dan membuat gempar dunia dengan Pidato Pancasila-nya. Bung Karno berkata pada Kennedy “Saya akan ke Kuba“. Kennedy mengernyitkan dahi “Jangan, kita lagi musuhan“. Bung Karno menjawab “Bangsa Indonesia yang harus pertama kali ke Kuba untuk memperlihatkan pada dunia, bahwa bangsa Indonesia menganut politik bebas aktif“. Lalu berangkatlah Bung Karno ke Kuba.

Di Havana yang sedang terbakar api revolusi menyambut meriah kedatangan seorang Pemimpin paling besar dari Asia yang mampu membebaskan bangsanya dengan keberanian. Di Istana Kuba, Bung Karno berkata pada Castro “You tau, Tuan Castro..inilah yang menyatukan Indonesia” kata Bung Karno sambil menunjukkan peci-nya. Lalu Castro berkata sambil tertawa “Yang Mulia Presiden Sukarno, Inilah yang membuat Batista merangkak-rangkak keluar Istana dan digebukin pantatnya sama Amerika” kata Castro sambil menunjukkan topi pet-nya yang bergambar bintang itu. Lalu mata Castro tertumbuk pada tongkat yang dibawa Sukarno. “Oh, kalau ini untuk apa Tuan Presiden“. Sukarno dengan gaya kocak mengelus-elus tongkatnya dan memberikan pada Castro :”Kalau kamu pegang ini akan keluar Jin” Castro dan semua yang ada disana tertawa terbahak-bahak. Castro mengelus-elus tongkat komando Bung Karno tapi tentu saja tidak keluar jin. Akhirnya Bung Karno mengajak Castro bertukar aksesoris, Castro memakai peci dan tongkat komando Soekarno, dan Soekarno memakai topi pet Castro

 
1 Comment

Posted by on December 29, 2011 in Pengetahuan Umum