RSS

Monthly Archives: December 2011

Bung Karno Pernah Tidak Punya Uang

Siapa yang mengira Bapak Bangsa ini, Proklamator Kemerdekaan RI dan Presiden Pertama Republik Indonesia, menjelang akhir hayatnya mengalami hidup yang sangat memprihatinkan. Dikucilkan oleh penguasa Orde Baru dengan alasan yang tidak pernah dijelaskan, dipisahkan dari orang-orang yang dia cintai, diperlakukan seperti pesakitan. Pemimpin besar revolusi ini sakit bukanlah karena usianya yang memang sudah tua, karena pada saat dia dikucilakan tidak lama setelah penanda tanganan Supersemar, 11 Maret 1967., artinya saat itu usia beliau barulah 67 tahun. Pada 12 Maret 1967, keluar TAP MPRS XXXIII/MPRS/1967 yang melucuti kekuasaan eksekutif Bung Karno. Melalui TAP itu juga Soeharto diangkat jadi pejabat presiden.

Kisah yang memprihatinkan setelah kekuasaannya dilucuti diceritakan oleh bekas ajudan terakhirnya Bung Karno, Sidarto Danusubroto yang kala itu berpangkat adjun komisaris besar polisi (AKBP) ditugasi menjadi ajudan Bung Karno. Dia menggantikan Kombespol Sumirat yang ditahan pasca-Supersemar. Surat keputusan pengangkatan Sidarto ditandatangani Bung Karno pada 22 Februari 1967.

Bung Karno menceritakan pada Sidarto tentang pengucilan tersebut, Bung Karno menyatakan bahwa dirinya bisa dikucilkan, dijauhkan dari keluarga, bahkan ditahan dan lama-lama akan mati sendiri. ’’Tapi, catat ya To, jiwa, ide, ideologi, semangat, tak dapat dibunuh,’’ ungkap Sidarto menirukan ucapan Bung Karno. Meski Soekarno sudah tidak mempunyai kekuasaan, Sidarto tetap tidak ditarik dari posisinya sebagai ajudan.

Tapi, untuk sementara, Soekarno yang diposisikan sebagai ’’presiden nonaktif’’ masih diperbolehkan tinggal di Istana Merdeka. Sampai suatu hari, sekitar Mei 1967, Bung Karno yang didampingi Sidarto yang baru saja pulang dari jalan-jalan keliling Jakarta dicegat dan dilarang masuk istana. ’Saya ingat, beliau habis nyate  sama saya di pinggir Pantai Cilincing,’’ cerita Sidarto. Terusir dari istana juga berarti kehilangan fasilitas protokoler, termasuk sekretaris presiden. Karena itu, Sidarto kemudian mendapat tugas tambahan baru, yakni jadi ’’sekretaris’’ Bung Karno. ’’Jadi, saya sempat jadi ajudan sekaligus sekretaris dadakan Bung Karno. Hasil ketikan saya ya kurang proporsional seperti ini,’’ katanya sambil menunjukkan sejumlah copy surat yang masih disimpan dengan rapi.

Menurut Sidarto, tak lama setelah meninggalkan Istana Merdeka, Bung Karno tak ubahnya tahanan kota. Untuk mobilitas Jakarta-Bogor saja, Bung Karno harus mendapat izin tertulis dari Pangdam VI Siliwangi dan Pangdam V Djayakarta. Nah, tugas mengurus perizinan itu dibebankan ke pundak Sidarto. ”Jadi, tugas saya, bolak-balik mengurus exit permit dan entry permit. Jakarta-Bogor sudah kayak ke luar negeri saja,” ujar bapak lima anak itu sambil geleng-geleng kepala. Pada penghujung Desember 1967, Bung Karno mulai berstatus tahanan rumah. Dia tak boleh lagi meninggalkan Wisma Yaso. Bahkan, keluarga dan kerabat sulit menemui Bung Karno. Untuk membesuk Bung Karno, mereka harus mendapat izin lebih dulu dari otoritas yang berwenang.

Dalam periode susah seperti itu, Sidarto kembali mendapat pengalaman yang tak terlupakan. ’’Saya disuruh ke sana-kemari mencari duit. Sebab, Bung Karno tidak pegang duit,’’ katanya. Menurut dia, Bung Karno memang seorang negarawan yang genius. Namun, soal keuangan pribadi, dia tak begitu memperhatikan. Karena itu, saat jadi tahanan rumah, Bung Karno sering kehabisan uang pegangan maupun uang untuk biaya hidup sehari-hari. ’’Sewaktu disuruh mencari duit itulah, saya sempat bingung dari mana bisa memperolehnya. Sebab, orang-orang dekat Bung Karno sewaktu saya dekati malah lari semua. Mereka takut. Hanya satu-dua orang yang masih setia,’’ ujar Sidarto.

Suatu ketika, Bung Karno meminta Sidarto menemui Tukimin, mantan pejabat rumah tangga Istana Merdeka. Tanpa kesulitan berarti, Sidarto berhasil mendapatkan USD 10 ribu dari Tukimin. Kesulitan justru terjadi saat hendak membawa uang itu ke Wisma Yaso. Sidarto takut digeledah penjaga, kemudian uangnya disita. Tak kehilangan akal, dia lalu memasukkan uang tersebut ke kaleng biskuit. Dia lantas menemui Megawati dan meminta putri Bung Karno itu membawakannya untuk Bung Karno. ’’Mbak Mega yang bawa masuk. Mbak Mega kan bisa beralasan mengunjungi ayahandanya,’’ kenang Sidarto.

Pada 23 Maret 1968, turun surat resmi dari Markas Besar Angkatan Kepolisian (saat ini Mabes Polri, Red) yang berisi penarikan Sidarto dari posisinya selaku ajudan Bung Karno. ’’Saat kondisi kesehatan Bung Karno semakin lemah, fungsi ajudan semakin tidak diperlukan. Yang lebih dibutuhkan adalah dokter dan perawat. Saya lalu diminta Panglima Angkatan Kepolisian (saat ini disebut Kapolri, Red) Soetjipto Joedodihardjo untuk ditarik,’’ jelasnya.

sumber:http://sejarah.kompasiana.com

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2011 in Pengetahuan Umum

 

Percakapan Terakhir Bung Karno dan Bung Hatta

 

Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.

Tiga hari kemudian, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah. “Hatta.., kau di sini..?”. Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur. “Ya, bagaimana keadaanmu, No?” Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.

Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu? Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno. Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.

Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus. Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.

Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

sumber :http://terselubung.blogspot.com

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Pengetahuan Umum

 

Bundaran Semanggi

Di depan maket Stadion Senayan Bung Karno menunjuk-nunjukkan tongkatnya ke maket rencana Stadion “Ini…ini akan jadi Stadion terbesar di dunia, ini adalah awal bangsa kita menjadi bintang pedoman bangsa-bangsa di dunia, semua olahraga dari negara-negara di dunia ini, berlomba disini. Kita tunjukkan pada dunia, Indonesia bangsa yang besar, yang mampu maju ke muka memimpin pembebasan bangsa-bangsa di dunia menuju dunia barunya“.

Lalu Sukarno memanggil pematung Sunarso dan berkata : “Coba dari arah lurus ini, kamu buat Patung Selamat Datang, disinilah patung yang akan jadi gerbang bangsa kita, awal dari mula sejarah berpikir kita. Djakarta akan jadi kota dunia, ini impianku, dari Stadion Senayan ini akan dilingkari pusat-pusat kebudayaan, kita akan melahirkan bukan saja atlet-atlet handal tapi pelukis-pelukis jempolan, penari-penari kelas dunia, dan penyanyi-penyanyi yang lagunya bisa membangkitkan suara surga dari tanah Nusantara. Cobalah Sunarso aku ingin lihat karyamu, patung-patungmu akan memberi jiwa bagi bangkitnya bangsa kita ke muka dunia Internasional. Monumenmu yang kau bangun adalah kehormatan“.

Kemudian Bung Karno diperlihatkan maket jalan Semanggi : “Semanggi ini perlambang bunga yang imbang, dari susunan daunnya dan batangnya. Ini seperti bangsa kita yang menyukai keindahan, dan taukah kamu…eh Bandrio, eh Jenderal Suprayogi, eh Sutami….keindahan itu adalah keseimbangan” kata Bung Karno dengan mata penuh kemenangan.

Utusan Jepang untuk persiapan Asian Games 1962 berdecak kagum pada bangsa Indonesia. “Ini bangsa gila, bisa menyiapkan seluruh soal dalam hitungan bulan, dengan membangun Stadion raksasa sekaligus pemindahan penduduk tanpa ribut-ribut. Kepemimpinannya luar biasa

Bung Karno dengan akal cerdasnya tidak membangun Stadion dengan hutang atau pake dana APBN dimanipulasi proyeknya seperti yang terjadi sekarang. Tapi ia memboyong semua menterinya ke Tokyo. Sukarno tinggal di Tokyo 18 hari. Disana Sukarno melobi seluruh pejabat-pejabat Jepang. Bahkan Mochtar Lubis dalam sebuah sindirannya berkata : “Gila, Ibukota RI pindah ke Tokyo”. Ini benar juga soalnya Robert Kennedy yang sedang melobi Sukarno harus ke Tokyo bukan ke Jakarta, semua pekerjaan dilaporkan para menteri ke Tokyo.

Dari Tokyo ini Sukarno mendapat pampasan perang Jepang. Beda dengan lobi gaya Sjahrir yang membuat Indonesia harus membayar kepada Belanda, lobi kepada Jepang justru membuat Jepang harus membayar pampasan perang kepada Indonesia, itulah hebatnya Sukarno. Dengan pampasan perang ditambah dana bantuan dari Uni Soviet itu Sukarno membangun Stadion paling hebat sedunia, Sukarno membangun Jembatan Ampera, Sukarno membangun banyak hotel agar Djakarta dipersiapkan jadi kota Internasional. Sukarno membangun jalan-jalan raya seperti Semanggi yang sampai sekarang masih dibanggakan bangsa Indonesia. Itulah warisan Sukarno pada kita.

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Pengetahuan Umum

 

Bung Karno dan Soeharto

Tahun 1964 Bung Karno melucu di depan Mayor Jenderal Suharto setelah beliau mengumandangkan operasi perang pengganyangan terhadap Malaysia. Mayjen Suharto diperintahkan Sukarno untuk merancang operasi militer darat untuk mendekeng operasi udara yang dikomandoi oleh Marsekal Omar Dhani. Saat itu Bung Karno sudah berpikir menjadikan Angkatan Udara sebagai Militer Udara terkuat se Asia. Sukarno berkata pada Suharto saat beberapa Jenderal mempertanyakan kenapa bukan Jenderal Angkatan Darat yang memegang pimpinan operasi Pengganyangan Malaysia. “Har, kamu tau bahwa jaman Hitler yang pegang peranan tank, mangkanya Hitler dulu sebelum perang membangun autobahn, jalan-jalan besar diaspal mulus untuk memperlancar gerak tank, setelah penyerangan Amerika Serikat ke Jepang baru dimulai abad militer Angkatan Udara, kamu masih inget saat Van Langen membom Yogya, itu yang maju pasukan udara-nya, mereka menerjuni pasukan lewat Maguwo dan membunuhi anak buah kasmiran, itu Angkatan Udara-nya Belanda, Har. Jadi aku ingin Angkatan Udara Indonesia kelak menjadi Angkatan Udara terkuat di Asia, dengan begitu kita menjadi bangsa kuat“.

Terbukti 40 tahun kemudian ramalan Sukarno tepat saat Amerika Serikat menyerang Irak dibawah Bush pada tahun 1990, seluruh operasi militer dikomandokan oleh Angkatan Udara, sebelum infanteri menguasai kota-kota penting di Irak. Abad pertempuran masa depan yang diramalkan Sukarno tentang Angkatan Udara menjadi terbukti.

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Pengetahuan Umum

 

Bung Karno dan Castro

Setelah menghadiri Sidang Pleno di PBB dan membuat gempar dunia dengan Pidato Pancasila-nya. Bung Karno berkata pada Kennedy “Saya akan ke Kuba“. Kennedy mengernyitkan dahi “Jangan, kita lagi musuhan“. Bung Karno menjawab “Bangsa Indonesia yang harus pertama kali ke Kuba untuk memperlihatkan pada dunia, bahwa bangsa Indonesia menganut politik bebas aktif“. Lalu berangkatlah Bung Karno ke Kuba.

Di Havana yang sedang terbakar api revolusi menyambut meriah kedatangan seorang Pemimpin paling besar dari Asia yang mampu membebaskan bangsanya dengan keberanian. Di Istana Kuba, Bung Karno berkata pada Castro “You tau, Tuan Castro..inilah yang menyatukan Indonesia” kata Bung Karno sambil menunjukkan peci-nya. Lalu Castro berkata sambil tertawa “Yang Mulia Presiden Sukarno, Inilah yang membuat Batista merangkak-rangkak keluar Istana dan digebukin pantatnya sama Amerika” kata Castro sambil menunjukkan topi pet-nya yang bergambar bintang itu. Lalu mata Castro tertumbuk pada tongkat yang dibawa Sukarno. “Oh, kalau ini untuk apa Tuan Presiden“. Sukarno dengan gaya kocak mengelus-elus tongkatnya dan memberikan pada Castro :”Kalau kamu pegang ini akan keluar Jin” Castro dan semua yang ada disana tertawa terbahak-bahak. Castro mengelus-elus tongkat komando Bung Karno tapi tentu saja tidak keluar jin. Akhirnya Bung Karno mengajak Castro bertukar aksesoris, Castro memakai peci dan tongkat komando Soekarno, dan Soekarno memakai topi pet Castro

 
1 Comment

Posted by on December 29, 2011 in Pengetahuan Umum

 

Patung Pancoran

Pernah saya berpikir mengenai sebuah patung yang terkenal di Indonesia, yaitu Patung Pancoran orang menyebutnya. Dalam hati saya berkata, apa sih menariknya patung ini? apa sih maksud patung ini? dari segi bentuk saja sudah tidak menarik dan bisa saya katakan bentuknya seram.
Akhirnya munculah rasa penasaran saya terhadap Patung Pancoran. Setelah menemukan sebuah artikal yang membahas mengenai Patung Pancoran, hilang sudah semua pikiran negatif saya mengenai patung ini, cerita pun dimulai.
Sunarso, ya dia adalah pembuat Patung Pancoran. Patung yang menjadi mimpi dari presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno. Patung yang dibuat sebagai fundamen awal terbentuknya ‘Angkatan Udara‘ terkuat di Asia. Kepada Omar Dhani, Bung Karno memesankan agar Angkatan Udara Republik Indonesia dibangun dengan kekuatan raksasa, ia juga menandai di tahun 1970-an nanti adalah abad dirgantara bagi Indonesia untuk melanjutkan peran manusia Indonesia ke depan. Soekarno juga berkata “Jikalau memang Indonesia bisa punya bom atom, ia juga harus bisa mengirimkan astronot-astronotnya ke luar angkasa“. Lalu Bung Karno membangun Patung Dirgantara, yang banyak orang mengenalnya Patung Pancoran.
Bung Karno pernah menulis buku “Dibawah Bendera Revolusi” yang pernah tercatat sebagai satu-satunya buku politik terlaris pada jamannya. Di tahun 1990-an, konon kabarnya Buku Di Bawah Bendera Revolusi cetakan pertama apalagi yang ada tanda tangan Sukarno, bisa dihargai diatas 10 juta. Iklan-iklan baris di tahun 90-an banyak memuat penjualan buku Di Bawah Bendera Revolusi. Bung Karno mendapat banyak royalti fee dari buku ini dan salah satunya bisa buat beli mobil Impala sama mobil Mercedes. Akhirnya mobil itu dilego oleh Bung Karno untuk bangun Patung Pancoran. Saat pembangunan Patung Pancoran berjalan terjadilah peristiwa Gestapu 65, ekonomi morat-marit. Bung Karno tak ingin pembuatan patung ini terbengkalai, ia juga tidak mau pakai uang negara. Lalu ia memanggil pematungnya Sunarso dan mengatakan “Juallah mobilku, selesaikan monumen itu“. Tetapi sejarah berkata lain peristiwa Gestapu  mengakibatkan turunnya Soekarno. Soekarno harus mundur, berikut cita-citanya.
Di masa itu ada yang lain dalam diri Bung Karno, pasca Gestapu 65. Ia banyak merenung sedih. Di lain pihak kelompok pro Suharto menggerogoti kekuasaan pelan-pelan. Soekarno tampak amat pasif, pidato-pidatonya lama kelamaan makin melemah. Ia pun sering duduk di bundaran Pancoran mengawasi pembuatan patung dari pagi sampai sore. Kadang-kadang ditemani ajudannya dengan menggunakan VW kodok, ia berputar-putar Jakarta sebelum akhirnya duduk di proyek Patung Pancoran. Tak lama Soekarno diinternir tentara, dia sakit dan meninggal di tahanan Wisma Yaso.
Saat membawa jenasah Bung Karno ke Halim Perdanakusumah untuk diberangkatkan ke Blitar, di tengah jutaan rakyat menangis di pinggir jalan Gatot Subroto. Mobil ambulance pembawa jenasah seakan berhenti sebentar di depan proyek Patung Pancoran. Sunarso yang sedang menyelesaikan bagian atas patung diam selama 10 menit untuk menghormati orang yang memerintahkan membuat patung. Ia menangis.Soekarno, memberikan semua yang ia miliki pada negara, termasuk hasil keringatnya sendiri. Lukisan-lukisan yang dihadiahkan kepada dirinya diberikan kepada negara sebagai inventaris negara. Dan bagaimana dengan Angkatan Udara kita saat ini? Realitasnya dengan kekuatan Angkatan Udara Singapura aja kita kalah kuat.
Mimpi Sukarno terlalu sering dihancurkan. Itulah cerita di balik Patung Pancoran tersimpan cita-cita Indonesia yang belum terwujud hingga sekarang. Kalau saja negara kita tidak dipimpin oleh orang yang korup dan egois, mungkin cita-cita Bung Karno dan cita-cita Indonesia saat ini sudah terwujud yaitu Patung Pancoran menjadi patung kebanggaan Indonesia dan dikenal di dunia karena patung inilah gerbang pintu masuk Indonesia menjadi negara maju dan kuat. Tapi sekarang ini hanyalah sebuah mimpi yang masih dalam proses perwujudannya, entah sampai kapan bangsa ini mewujudkannya.
 
4 Comments

Posted by on December 23, 2011 in Pengetahuan Umum

 

Kasus Freeport Indonesia

Penasaran mengenai kasus Freeport yang sering diberitakan membuat saya ingin lebih tahu permasalahannya. Setelah cari info sana sini akhirnya saya rangkum saja menjadi satu. Singkat ceritanya seperti ini kira-kira.

PT. Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. (salah satu produsen terbesar emas di dunia. Perusahaan Amerika ini memiliki beberapa anak perusahaan termasuk PT Freeport Indonesia, PT Irja Eastern Minerals and Atlantic Copper, S.A.).
Perusahaan Amerika Freeport Sulphur yang bermarkas di New Orleans adalah perusahaan asing pertama yang memperoleh ijin usaha dari pemerintah Indonesia pada tahun 1967, setelah kejatuhan Presiden Soekarno oleh Presiden Soeharto. Freeport Kontrak dimulai tahun 1967 dan baru akan berakhir tahun 2041. Freeport Indonesia sering dikabarkan melakukan penganiayaan terhadap para penduduk setempat. Selain itu, pada tahun 2003 Freeport Indonesia mengaku bahwa mereka telah membayar TNI untuk mengusir para penduduk setempat dari wilayah mereka. Menurut laporan New York Times pada Desember 2005, jumlah yang telah dibayarkan antara tahun 1998 dan 2004 mencapai hampir 20 juta dolar AS.
Beberapa sumber menghitung bahwa sejak 1967 sampai 2010 (43 tahun) sudah menghasilkan 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas. Kalau diuangkan dengan patokan harga emas tiap gram sekarang senilai Rp 500.000,- saja, maka jumlah uang yang dihasilkan kurang lebih adalah 724 trilyun 700 ribu gram x Rp 500.000,- = 362.350 trilyun. Artinya tiap tahun Freeport menghasilkan kekayaan sebesar: 362.350 trilyun : 43 = 8.426,7442 trilyun. Katakanlah setelah dipotong macam-macam biaya hasil bersihnya adalah 8.000 trilyun (coba bandingkan dengan anggaran APBN tahun ini yang cuma 1.202 trilyun). Dari jumlah ini, Indonesia hanya mendapat 1%. Artinya hanya sekitar 80 trilyun tiap tahun (kalau menurut berita-berita di media massa jumlahnya malah hanya 15 sampai 20 trilyun pertahun, alias seperempat dari cukai rokok yang tahun 2010 saja menyumbang devisa sebesar 66 trilyun). Sementara sisanya yang 99% masuk ke perusahaan di AS. Sekarang mari kita bayangkan, kalau saja pemerintah berani menuntut perubahan kontrak karya dan meminta bagian 30% saja, maka tiap tahun kita bisa memperoleh minimal 2.400 trilyun (alias dua kali lipat APBN tahun ini). Itu baru dihitung dari nilai emas, belum lagi dari hasil tambang lainnya. Meski demikian, baru dari emas yang dihasilkan saja, kita sudah bisa menghitung bahwa pada dasarnya kita tak perlu lagi punya hutang, rakyat juga akan sejahtera, bisa memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis. Bukan cuma Papua yang akan sejahtera dan bermartabat, tapi seluruh Indonesia. Apalagi sekarang ditemukan uranium yang harganya 100 kali harga emas. Bahkan menurut para ahli, bila dipakai untuk PLTN, kandungan uranium disana mampu dipakai utuk menerangi seluruh dunia. (diambil dari berbagai sumber, karena transparansi tak bisa ditunjukkan oleh pihak Freeport).
 
2 Comments

Posted by on December 23, 2011 in Pengetahuan Umum